Minggu, 29 Januari 2017

Tugas mata kuliah ;Prof Surya


PENELITIAN LAPANGAN
Tugas dari Proffesor Surya






STRATEGI PEMBELAJARAN MATEMATIKA






Lilis Kartika
NPM : 158060006


PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS PASUNDAN 
BANDUNG 
2016

JUDUL:PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN STUDENT FACILITATOR AND EXPLAINING  SEBAGAI  UPAYA   MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATERI HIMPUNAN   DI KELAS VII SMP  NEGERI 42   BANDUNG TAHUN AJARAN 2015/2016




LATAR BELAKANG

pengajaran konvensional saat ini memicu banyak masalah dan menjadi salah satu kendala dalam mencapai keberhasilan pembelajaran matematika saat ini, hanya siswa yang rajin yang pandai menyimak saja yang mempunyai keberhasilan dalam pembelajarn matematika . Siswa lain yang tidak pandai menyimak tidak pandai menyerap akan jauh tertinggal dengan siswa  yang mempunyai kelebihan bisa menyerap pelajaran dengan baik. Hal ini menjadi suatu dilema bagi guru satu sisi dengan pembelajaran konvensional materi banyak yang dapat tersampaikan sisi lain bagi siswa yang kurang dalam menyerap materi pembelajaran akan jauh tertinggal dengan teman teman nya. Hal ini memotivasi saya  untuk dapat meneliti sejauh mana keberhasilan  PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN STUDENT FACILITATOR END EXPLAINING DAPAT MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR PADA MATERI POKOK HIMPUNAN DI KELAS VII-3  SMP NEGERI 42 BANDUNG TAHUN PELAJARAN 206/2017 






MASALAH/PERTANYAAN PENELITIAN


Pedoman Wawancara Guru
1. Menggunakan apakah dalam pembelajaran  matematika di kelas?
2. Bagaimana keefektifan nya  terhadap pembelajaran matematika?
3. Bagaimana kesesuaian nya  pada setiap materi matematika yang diajarkan di SMP?
4. Apakah bapak/ibu mengalami kesulitan dalam menerapkan nya?
5. Apa saja kendala nya?
6. Bagaimana kesesuaian langkah-langkah nya  pada RPP .?
7. Apakah buku paket atau bahan ajar yang digunakan ?
8. Bagaimana pengaruh nya  terhadap siswa dalam  penguasaan materi matematika ?
9. Apakah bapak/ibu menggunakan metode atau model pembelajaan lain? jika iya, pendekatan pembelajaran apa yang digunakan?
10. Bagaimana kaitan nya dengan kurikulum yang saat ini digunakan? 
 
 
 
LANDASAN KONSEPTUAL

Menurut Hintzman belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi dalam diri manusia disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku manusia (Muhibbin Syah, 2005:90). Kegiatan belajar merupakan unsur yang sangat mendasar dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Jadi perubahan yang ditimbulkan oleh pengalaman baru dapat dikatakan belajar apabila mempengaruhi prilaku dalam kehidupan sehari-hari sampai batas tertentu.
Menurut Oemar Hamalik (2003:50) terdapat unsur-unsur yang terkait dalam proses belajar diantaranya: 1) motivasi siswa, 2) bahan belajar, 3) alat bantu belajar, 4) suasana belajar, 5) kondisi subjek yang belajar. Kelima unsur inilah yang bersifat dinamis yang sering berubah, menguat atau melemah dan mempengaruhi proses belajar siswa. Proses belajar pada hakekatnya merupakan perubahan dalam tingkah laku seseorang dalam situasi tertentu yang berulang-ulang berdasarkan keadaan seseorang.
Menurut peneliti perbuatan belajar adalah suatu perubahan yang ditimbulkan oleh pengalaman baru yang mempengaruhi tingkah laku siswa dalam situasi tertentu yang berulang-ulang. Setiap perbuatan belajar mengandung beberapa unsur yang bersifat dinamis (berubah-ubah) dalam arti dapat menjadi lebih kuat atau melemah. Kedinamisan ini dipengaruhi oleh kondisi yang ada dalam diri siswa dan yang ada diluar diri siswa yang tentu pula ada pengaruhnya terhadap kegiatan belajar siswa.

2. Arti Model Pembelajaran

diartikan sebagai prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Dapat juga diartikan suatu pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
Jadi, sebenarnya model pembelajaran memiliki arti yang sama dengan pendekatan, strategi atau metode pembelajaran. Saat ini telah banyak dikembangkan berbagai macam model pembelajaran, dari yang sederhana sampai model yang agak kompleks dan rumit karena memerlukan banyak alat bantu dalam penerapannya.
Ciri-ciri Model Pembelajaran
Ada beberapa ciri-ciri model pembelajaran secara khusus diantaranya adalah :
 


Rasional teoritik yang logis yangdisusun oleh para pencipta atau pengembangnya.
Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar.
Tingkah laku mengajar yang diperlukanagar model tersebut dapat dilaksanakandengan berhasil.
Lingkungan belajar yang duperlukanagar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
ada lima model pemblajaran yang dapat digunakan dalam mengelola pembelajaran, yaitu: pembelajaran langsung; pembelajaran kooperatif; pembelajaran berdasarkan masalah; diskusi; dan learning strategi.
Memilih Model Pembelajaran Yang Baik
Sebagai seorang guru harus mampu memilih model pembelajaran yang tepat bagi peserta didik. Karena itu dalam memilih model pembelajaran, guru harus memperhatikan keadaan atau kondisi siswa, bahan pelajaran serta sumber-sumber belajar yang ada agar penggunaan model pembelajara dapat diterapkan secara efektif dan menunjang keberhasilan belajar siswa.
Seorang guru diharapkan memiliki motivasi dan semangat pembaharuan dalam proses pembelajaran yang dijalaninya. Menurut Sardiman A. M. (2004 : 165), guru yang kompeten adalah guru yang mampu mengelola program belajar-mengajar. Mengelola di sini memiliki arti yang luas yang menyangkut bagaimana seorang guru mampu menguasai keterampilan dasar mengajar, seperti membuka dan menutup pelajaran, menjelaskan, menvariasi media, bertanya, memberi penguatan, dan sebagainya, juga bagaimana guru menerapkan strategi, teori belajar dan pembelajaran, dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif.
Pendapat serupa dikemukakan oleh Colin Marsh (1996 : 10) yang menyatakan bahwa guru harus memiliki kompetensi mengajar, memotivasi peserta didik, membuat model instruksional, mengelola kelas, berkomunikasi, merencanakan pembelajaran, dan mengevaluasi. Semua kompetensi tersebut mendukung keberhasilan guru dalam mengajar.
Setiap guru harus memiliki kompetensi adaptif terhadap setiap perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan di bidang pendidikan, baik yang menyangkut perbaikan kualitas pembelajaran maupun segala hal yang berkaitan dengan peningkatan prestasi belajar peserta didiknya.


3. Pengertian Model Pembelajaran Student Facilitator and Explaining

          Model Pembelajaran Student Facilitator and Explaining merupakan model pembelajaran dimana siswa/peserta didik belajar mempresentasikan ide/pendapat pada rekan peserta didik lainnya. Model pembelajaran ini efektif untuk melatih siswa berbicara untuk menyampaikan ide/gagasan atau pendapatnya sendiri.
Model pembelajaran ini akan relevan apabila siswa secara aktif ikut serta dalam merancang materi pembelajaran yang akan dipresentasikan. Untuk itu pembelajaran pada apresiasi drama akan lebih sesuai dikarenakan siswa secara aktif ikut serta baik itu dalam kegiatan apresiasi maupun bisa berupa ekspresi sastra sebagai pelakunya.


Langkah-langkah pembelajarannya :
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai/KD.
2. Guru mendemonstrasikan/menyajikan garis-garis besar materi pembelajaran.
3. Memberikan kesempatan siswa untuk menjelaskan kepada siswa lainnya, misalnya melalui bagan/peta konsep. Hal ini bisa dilakukan secara bergiliran pada siswa yang berkelompok  di depan kelas.
4. Guru menyimpulkan ide/pendapat dari siswa.
5. Siswa yang di beri tugas materi perkelompok yang  menerangkan semua materi yang disajikan saat itu.
6. Penutup
Kelebihan Model Pembelajaran Student Facilitator and Explaining
siswa diajak untuk dapat menerangkan kepada siswa lain, dapat mengeluarkan ide-ide yang ada dipikirannya sehingga lebih dapat memahami materi tersebut.



Kekurangan Model Pembelajaran Student Facilitator and Explaining:
1. Adanya pendapat yang sama sehingga hanya sebagian saja yang tampil.
2. Banyak siswa yang kurang aktif
Kesimpulan
Dalam Model pembelajaran ini akan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkap apabila siswa secara aktif ikut serta dalam merancang materi pembelajaran yang akan dipresentasikan maka siswa akan lebih bisa mengerti dan mampu memahaminya untuk mengungkapkan ide, selain itu juga dapat mengajak peserta didik mandiri dalam mengembangkan potensi mengungkapkan gagasan berpendapat. 






4. Keaktifan Siswa 

Aktif menurut kamus besar bahasa Indonesia (2002:19) berarti giat (bekerja atau berusaha), sedangkan keaktifan diartikan sebagai hal atau keadaan dimana siswa dapat aktif. Keaktifan siswa dalam belajar matematika tampak dalam kegiatan berbuat sesuatu untuk memahami materi pelajaran.
Menurut Moh User Usman (2002:26) cara yang dapat dilakukan guru untuk memperbaiki keterlibatan siswa antara lain sebagai berikut:
a. Tingkatkan persepsi siswa secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar yang
membuat respon yang aktif dari siswa
b. Masa transisi antara kegiatan dalam mengajar hendaknya dilakukan secara cepat dan
luwes

c. Berikan pengajaran yang jelas dan tepat sesuai dengan tujuan mengajar yang akan
dicapai

d. Usahakan agar pengajaran dapat lebih memacu minat siswa.
Menurut Lidgren (Moh User Usman, 2002:24) terdapat empat jenis interaksi
dalam kegiatan belajar mengajar diantaranya sebagai berikut: 





Komunikasi satu arah (gambar 1.a) merupakan komunikasi yang hanya dilakukan
oleh guru terhadap siswa, sementara siswa hanya pasif sebatas mendengarkan
Gambar 1. Interaksi Kegiatan Belajar
komunikasi dari guru. Komunikasi dari guru sudah mendapat respon balik dari siswa, tetapi tidak ada interaksi antar siswa. Interaksi yang terjadi hanya antara guru dan siswa selama pembelajaran (gambar 1.b). Komunikasi dari guru sudah mendapat respon balik dari siswa dan ada interaksi diantara siswa, tetapi belum keseluruhan siswa yang melakukan interaksi baik dengan guru maupun siswa lainnya (gambar 1.c). Komunikasi sudah berjalan baik antara guru dengan siswa maupun antara siswa dengan siswa lainnya. Dalam hal ini interaksi sudah optimal selama proses pembelajaran (gambar 1.d).
Jenis-jenis interaksi pembelajaran diatas menunjukkan derajat keaktifan siswa. Anak panah menunjukkan arah komunikasi sehingga semakin banyak ruas garis berarah menunjukkan semakin tinggi interaksi siswa. Interaksi lebih tinggi ini diperlukan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.
Keaktifan siswa merupakan suatu keadaan dimana siswa berpartisipasi secara aktif dalam pembelajaran. Dalam hal ini keaktifan siswa terlihat dari merespon pertanyaan atau perintah dari guru, mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru, berani mengemukakan pendapat, dan aktif mengerjakan soal yang diberikan guru.


5. Prestasi Belajar

Belajar merupakan salah satu dasar untuk mengetahui sejauh mana materi pelajaran yang disampaikan guru dapat diterima dan dipahami sehingga prestasi belajar.siswa dapat diketahui dari hasil tes yang diberikan. Menurut Saifudin Azwar (1998:45) prestasi merupakan hasil yang telah dicapai dari apa yang telah dilakukan dan dikerjakan secara optimal.
Menurut Dalyono (2005:55) ada beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern meliputi kesehatan, intelegensi, bakat, minat, dan motivasi, sedangkan faktor ekstern meliputi keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan sekitar. Faktor yang bersumber dari dalam diri siswa yaitu kecerdasan, minat, motivasi dan kemampuan kognitif sedangkan faktor dari lingkungan keluarga yaitu tingkat pendidikan orang tua dan jumlah anggota orang tua.
Prestasi belajar siswa merupakan hasil yang telah dicapai siswa setelah belajar dan mengerjakan secara optimal yang diperoleh dari hasil tes individu. Perbedaan kemampuan belajar siswa berpengaruh pada prestasi belajar yang dicapai dari setiap siswa karena faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa juga berbeda-beda.

6. Materi Himpunan


A. Pengertian Himpunan

Himpunan adalah kumpulan benda atau objek yang dapat didefinisikan dengan jelas. Anggota himpunan disebut anggota atau elemen himpunan.

Contoh:
1. A adalah himpunan nama kota di Jawa Tengah. Anggota himpunan A adalah Purwokerto, Semarang, Kebumen, Solo, dan lain-lainnya.

2. B adalah himpunan bilangan bulat lebih dari -3. Anggota himpunan B adalah bilangan -2,-1,0,1,2,3, ...

B. Notasi Himpunan


Penulisan himpunan ditandai dengan adanya kurung kurawal {}. Penulisan himpunan berkelanjutan dituliskan menggunakan tanda titik sebanyak tiga buah (...) untuk mengganti anggota himpunan lain yang tidak dapat dituliskan satu persatu. Anggota atau elemen suatu himpunan dinyatakan dengan notasi \in
Bila bukan anggota himpunan dinyatakan dengan notasi  \notin .

Misalkan A adalah suatu himpunan, maka bilangan yang menyatakan banyak anggota himpunan A disebut bilangan kardinal. Banyaknya anggota suatu himpunan A dituliskan dengan n(A).

Misalnya, himpunan A = {1,2,3,4,5,6}, maka banyaknya himpunan A atau n(A) = 6.

C. Menyatakan Suatu Himpunan

Suatu himpunan dapat dinyatakan dengan tiga cara, yaitu:

1. Deskripsi

Menyatakan suatu himpunan dengan kata-kata atau hanya menyebutkan sifat keanggotaannya saja.
Contoh:

A = {nama kota yang berawalan huruf B}
B = {bilangan asli kurang dari 10}
2. Tabulasi atau Roster

Menyatakan suatu himpunan dengan mendaftar anggota-anggotanya satu persatu.
Contoh:

A ={Bandung, Bogor, Banjar}
B = {1,2,3,4,5,6,7.8.9}
3. Rule

Menyatakan suatu himpunan dengan notasi pembentuk himpunan.
Contoh:

A = \left \{ x \mid x \in nama kota yang berawalan huruf B \right \}
B = \left \{ x|x< 10,x\in \right \}
D. Himpunan Bagian

Bilangan ada bermacam-macam. Diantaranya, bilangan asli, bilangan cacah, bilangan bulat, bilangan genap, dan lain-lain. Dalam himpunan penulisan bilangan-bilangan tersebut sebagai berikut:

Himpunan bilangan asli dilambangkan A (R). Dengan demikian, A = {1,2,3,4,5,...}
Himpunan bilangan cacah dilambangkan C. Dengan demikian, C = {0,1,2,3,4,5,...}
Himpunan bilangan bulat dilambangkan B. Dengan demikian B ={...,-2,-1,0,1,2,...}
Himpunan bilangan prima adalah bilangan yang memiliki tepat dua faktor, yaitu satu dan bilangan itu sendiri. Himpunan bilangan prima dilambangkan dengan P. Dengan demikian, P = {2,3,5,7,11,13,17,19, ...}
Himpunan bilangan genap dilambangkan G. Dengan demikian, G = {0,2,4,6,8,10, 12, ...}
E. Jenis-jenis Himpunan

Himpunan ada bermacam-macam. Misalnya, himpunan nol, himpunan kosong, himpunan berhingga, himpunan tak berhingga, himpunan sama, himpunan ekuivalen, dan himpunan semesta.

1. Himpunan Nol dan Himpunan Kosong

Himpunan nol adalah himpunan yang hanya memiliki satu anggota yaitu nol. Himpunan nol dilambangkan dengan {0}. Contoh: himpunan bilangan cacah yang anggotanya kurang dari satu, anggotanya hanya satu yaitu 0.

Himpunan kosong adalah himpunan yang tidak memiliki anggota. Himpunan kosong dilambangkan {} atau \O.
Contoh:
himpunan mahluk hidup yang tidak memerlukan oksigen.
himpunan bilangan negatif lebih dari satu.
2. Himpunan Terhingga dan Tidak Terhingga 

Himpunan terhingga adalah himpunan yang banyak anggotanya dapat dihitung. Contoh: himpunan bilangan cacah kurang dari 5, yaitu {0,1,2,3,4} dengan banyak anggota 5. 

Himpunan tak terhingga adalah himpunan yang banyak anggotanya tidak dapat dihitung. Contoh: himpunan bilangan bulat.

3. Himpunan Sama dan Himpunan Ekuivalen.

Himpunan A dan B dikatakan himpunan sama bila setiap anggota himpunan A dan B adalah sama, dituliskan A = B.
Contoh:
C = {d,a,p,u,r}
D = {p,u,d,a,r}
Setiap anggota himpunan C merupakan anggota himpunan D, berlaku sebaliknya. Dengan demikian, himpunan C = D.

Himpunan P dan Q dikatakan ekuivalen jika banyaknya anggota P sama dengan banyaknya anggota himpunan Q atau n(P) = n(Q), dituliskan P\sim Q.
Contoh:


R = {1,2,3,4,5}, n(R) = 5
S = {a,i,u,e,o}, n(S) = 5
Karena n(R) = n(S), maka himpunan R ekuivalen dengan himpunan S atau R\sim S

4. Himpunan Semesta

Himpunan Semesta adalah himpunan yang memuat seluruh anggota himpunan yang dibicarakan. Himpunan semesta disebut juga himpunan universum, yang dilambangkan S.
Contoh:
A = {-2,-1,0,1,2}. Berarti himpunan semesta untuk A adalah S ={bilangan bulat}, atau S = {bilangan bulat kurang dari 3}

F. Himpunan bagian

Himpunan bagian disebut juga subset. Himpunan A merupakan himpunan bagian dari B, bila setiap anggota himpunan A juga merupakan anggota B. Sebaliknya, setiap anggota himpunan B belum tentu anggota himpunan A. Himpunan A merupakan himpunan bagian B dinotasikan A \subset B.

Bila n(A) merupakan banyaknya anggota himpunan A, berarti banyaknya himpunan bagian dari A adalah: 2^{n\left ( A \right )}



METODE:
- DISAIN PENELITIAN

METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat  Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMP  Negeri 42 Bandung pada semester Genap   bulan Januari 2015  sampai bukan maret   2015. Dengan menyesuaikan jam pelajaran matematika kelas 7-3 SMP Negeri 42 Bandung

B. Subjek & Objek Penelitian 

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 7-3   SMP Negeri 42 Bandung, yaitu 4o siswa yang terdiri dari 22 siswa putri dan 18 siswa putra. Dan obyek penelitian ini adalah penerapan 
model pembelajaran student fasilitator end explaining 

C. Desain Penelitian

.jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilakukan secara kolaboratif. Dalam penelitian kolaboratif pihak yang melakukan tindakan adalah guru itu sendiri sedangkan yang diminta melakukan pengamatan terhadap berlangsungnya proses tindakan adalah peneliti (Suharsimi Arikunto, 2002:17).  
1.  Perencanaan (plan) 
2.  Tindakan (act)
3. Pengamatan (observe)
4.  Refleksi (reflect).

Dalam penelitian ini dilakukan dalam tiga siklus. Siklus dihentikan apabila kondisi kelas sudah stabil dalam hal ini guru sudah mampu menguasai keterampilan belajar yang baru dan siswa terbiasa dengan Metode Projek dalam pembelajaran  serta data yang ditampilkan di kelas sudah jenuh dalam arti sudah ada peningkatan keaktifan dan prestasi belajar siswa (Rochiati Wiriaatmadja, 2005:103). Alur penelitiannya adalah:



D. Tahapan Penelitian 

1. Tahapan Penelitian Siklus I

 a. Perencanaan

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, hand out, lembar kerja siswa, lembar observasi keaktifan, lembar angket respon siswa, lembar observasi pelaksanaan  model pembelajaran student fasilitator end explaining  dan pedoman wawancara yang kemudian dikonsultasikan dengan dosen pembimbing.

B. Tindakan

Pelaksanaan tindakan pada siklus pertama dilakukan dalam tiga kali pertemuan.
Tahap tindakan dilakukan oleh guru dengan menerapkan model pembelajaran student fasilitator end explaining  Proses pembelajaran dilakukan sesuai dengan jadwal pelajaran matematika kelas 7-7 Materi yang akan diberikan adalah materi himpunan . Adapun tindakan yang dilakukan pada tiap siklus yaitu:

Pendahuluan

Guru menyampaikan presentasi kelas dengan memberikan apersepsi dan motivasi kepada siswa dalam mempelajari materi Himpunan 
.
2) Kegiatan Inti

a). Siswa belajar dalam kelompok
b). Guru memberi kesempatan untuk duduk du depan bersama    
     Anggota kelompok  nya sebagai pemberi materi dan menjelaskan      
     Nya secara singkat
c). Siswa mengerjakan memberikan pertanyaan  secara kelompok 
d). Pembahasan pertanyaan konfirmasi kolaborasi &komunikasi 
e). Pemberian Penghargaan Kelompok






3). Penutup 

Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang telah berhasil   
kriteria keberhasilan tertentu.

C. Observasi 

Dilakukan selama proses pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan dan mencatat kejadian-kejadian yang tidak terdapat dalam lembar observasi dengan membuat lembar catatan lapangan. Hal-hal yang diamati selama proses pembelajaran adalah kegiatan pembelajaran dan aktivitas guru maupun siswa selama pelaksanaan pembelajaran.

D. Refleksi

Pada tahap ini peneliti bersama guru melakukan evaluasi dari pelaksanaan tindakan
pada siklus I yang digunakan sebagai bahan pertimbangan perencanaan pembelajaran siklus berikutnya. Jika hasil yang diharapkan belum tercapai maka dilakukan perbaikan yang dilaksanakan pada siklus kedua dan seterusnya.

2. Tahapan penelitian siklus II dan siklus III

Rencana tindakan siklus II dimaksudkan sebagai hasil refleksi dan perbaikan
terhadap pelaksanaan pembelajaran pada siklus I. Sedangkan kegiatan pada siklus III dimaksudkan sebagai hasil refleksi dan perbaikan terhadap pelaksanaan pembelajaran pada siklus II. Tahapan tindakan siklus II dan siklus III mengikuti tahapan tindakan siklus I

- DATA YANG DIKUMPULKAN
- POPULASI & SAMPEL
- ALAT PENGUMPUL DATA
- PENGOLAHAN DATA
HASIL DAN PEMBAHASAN
KESIMPULAN DAN RELOMENDASI
KEPUSTAKAAN

Mata kuliah "Kajian Mandiri"

Judul: Konstruk kompetensi literasi untuk siswa sekolah dasar 
Penulis : Tadkiroatun Musfiroh dan Beniati Listyorini FBS Universitas Negeri Yogyakarta ,volume 15 no 1 april tahun 2016

RINGKASAN : Akhir akhir ini sudah marak gerakan literasi sekolah maka untuk dapat lebih mengenal lebih jauh tentang literasi saya ambil jurnal ini yang intinya adalah penting nya literasi sejak dini   Pertama, kompetensi literasi membaca adalah kemampuan membaca teks berjenis sas- tra dan informatif, berdasarkan empat tingkatan kognitif (grafik normal), dari berbagai tipe teks serta mengikuti konteks lokal (sekitar anak ) dan nasional 
Membaca juga sangat penting dalam “self-realization, helping children learn about themselves and their potential” membaca membuat siswa lebih berpengetahuan, tidak hanya tentang mata pelajaran di sekolah tetapi juga tentang topik-topik yang relevan dengan kehidupan sehari- hari dan masyarakat secara umum. Dalam membaca, siswa akan mendapatkan kata baru, frase, idiom yang akan meningkat- kan kosakata dan kemampuan bahasa mereka. Siswa juga belajar tentan pola 

dan hubungan yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan berkreasi.
 Kedua, konstruk kompetensi literasi untuk siswa Kelas IV SD terdiri atas komponen kom- petensi literasi siswa kelas IV SD, tingka- tan kognitif yang diminta, jenis teks yang diinginkan, tipe teks yang diinginkan, yang kesemuanya disesuaikan dengan konteks yang diketahui anak. Ketiga, per- masalahan literasi anak Indonesia sangat kompleks. Oleh karena itu, konstruk kom- petensi literasi perlu disesuaikan dengan diksi, panjang teks, tingkatan kognisi, tema teks, ilustrasi.
------------------------------------------------------------------
TUGAS KAJIAN MANDIRI 
Nama Mahasiswa : LILIS KARTIKA
Npm : 158060006


Tugas mata kuliah


 Tugas UAS  
ANALISA LAPANGAN  PEMBELAJARAN DI KELAS

Judul:


PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN STUDENT FACILITATOR AND EXPLAINING  SEBAGAI  UPAYA   MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATERI HIMPUNAN   DI KELAS VII SMP  NEGERI 42   BANDUNG 


















Untuk memenuhi  tugas DASAR DASAR PENGEMBANGAN ILMU PENDIDIKAN


Lilis Kartika
NPM : 158060006


PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS PASUNDAN 
BANDUNG 
2016



BAB I

 PENDAHULUAN

PERTANYAAN " apa LATAR BELAKANG PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN STUDENT FACILITATOR AND EXPLAINING  SEBAGAI  UPAYA   MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATERI HIMPUNAN   DI KELAS VII SMP  NEGERI 42   BANDUNG 

pengajaan konvensional saat ini memicu banyak masalah dan menjadi salah satu kendala dalam mencapai keberhasilan pembelajaran matematika saat ini, hanya siswa yang rajin yang pandai menyimak saja yang mempunyai keberhasilan dalam pembelajarn matematika . Siswa lain yang tidak pandai menyimak tidak pandai menyerap akan jauh tertinggal dengan siswa  yang mempunyai kelebihan bisa menyerap pelajaran dengan baik. Hal ini menjadi suatu dilema bagi guru satu sisi dengan pembelajaran konvensional materi banyak yang dapat tersampaikan sisi lain bagi siswa yang kurang dalam menyerap materi pembelajaran akan jauh tertinggal dengan teman teman nya. Hal ini memotivasi saya  untuk dapat meneliti sejauh mana keberhasilan  PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN STUDENT FACILITATOR END EXPLAINING DAPAT MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR PADA MATERI POKOK HIMPUNAN DI KELAS VII-7  SMP NEGERI 42 BANDUNG  

  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah model pembelajaran  student facilitator end explaining  pada pembelajaran himpunan dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa 

B. IdentifikasiMasalah

hasil akhir dari proses pembelajaran matematika pada materi  himpunan di smp negeri 42 Bandung dirasa masih lemah dalam pemahaman konsep hal ini menyebabkan nilai hasil test nya juga kurang optimal dalam pembelajaran siswa kurang aktif dalam bertanya hal itu disebabkan siswa tidak menguasai konsep awal. Interaksi dengan sesama teman juga dirasa kurang yang seharusnya siswa aktif saling berdiskusi. Salah satu yang dapat mendorong siswa aktif dalam pembelajaran adalah dengan  penggunaan model  pembelajaran student facilitator end explaining pada materi himpunan di kelas 7-7 SMP N 42 BANDUNG 


C.Pembatasan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini hanya akan membahas masalah upaya meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa melalui penerapan model pembelajran student facilitator end  explaining. Dalam penelitian ini indikator meningkatnya keaktifan siswa dilihat dari proses pembelajaran selama dikenai tindakan dan meningkatnya prestasi belajar siswa dilihat dari hasil tes siswa.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah:

Apakah penerapan model pembelajaran student facilitator end  explaining dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi himpunan di SMP NEGERI 42 BANDUNG?

2.  Apakah penerapan model  pembelajaran student facilitaor 
     end explaining dapat     meningkatkan prestasi       
     belajar siswa pada materi himpunan di kelas 7-7 SMP NEGERI 42  .
     Bandung?


E. TujuanPenelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah:

Meningkatkan keaktifan belajar siswa pada materi himpunan di kelas  7-7 SMP NEGERI 42 Bandung melalui penerapan  model pembelajaran student facilitator end explaining  



2. Meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi himpunan  melalui    .   penerapan model  pembelajaran.model pembelajaran student facilitator       
     End explaining  




F. Manfaat Hasil Penelitian

Hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat memberikan manfaat yaitu:

Bagi Guru 
Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan model pembelajaran  student explaining presentasi  dengan tujuan agar
dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa.

2. Bagi Siswa
Sebagai wahana baru dalam proses meningkatkan keaktifan dan prestasi dalam
pembelajaran matematika.

3. Bagi Peneliti
Sebagai pengembangan pengetahuan tentang penelitian dalam pembelajaran matematika.




















BAB II
 LANDASAN TEORI

Deskripsi Teori
1. Pengertian Belajar

Menurut Hintzman belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi dalam diri manusia disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku manusia (Muhibbin Syah, 2005:90). Kegiatan belajar merupakan unsur yang sangat mendasar dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Jadi perubahan yang ditimbulkan oleh pengalaman baru dapat dikatakan belajar apabila mempengaruhi prilaku dalam kehidupan sehari-hari sampai batas tertentu.
Menurut Oemar Hamalik (2003:50) terdapat unsur-unsur yang terkait dalam proses belajar diantaranya: 1) motivasi siswa, 2) bahan belajar, 3) alat bantu belajar, 4) suasana belajar, 5) kondisi subjek yang belajar. Kelima unsur inilah yang bersifat dinamis yang sering berubah, menguat atau melemah dan mempengaruhi proses belajar siswa. Proses belajar pada hakekatnya merupakan perubahan dalam tingkah laku seseorang dalam situasi tertentu yang berulang-ulang berdasarkan keadaan seseorang.
Menurut peneliti perbuatan belajar adalah suatu perubahan yang ditimbulkan oleh pengalaman baru yang mempengaruhi tingkah laku siswa dalam situasi tertentu yang berulang-ulang. Setiap perbuatan belajar mengandung beberapa unsur yang bersifat dinamis (berubah-ubah) dalam arti dapat menjadi lebih kuat atau melemah. Kedinamisan ini dipengaruhi oleh kondisi yang ada dalam diri siswa dan yang ada diluar diri siswa yang tentu pula ada pengaruhnya terhadap kegiatan belajar siswa.

2. Arti Model Pembelajaran

diartikan sebagai prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Dapat juga diartikan suatu pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
Jadi, sebenarnya model pembelajaran memiliki arti yang sama dengan pendekatan, strategi atau metode pembelajaran. Saat ini telah banyak dikembangkan berbagai macam model pembelajaran, dari yang sederhana sampai model yang agak kompleks dan rumit karena memerlukan banyak alat bantu dalam penerapannya.
Ciri-ciri Model Pembelajaran
Ada beberapa ciri-ciri model pembelajaran secara khusus diantaranya adalah :
 


Rasional teoritik yang logis yangdisusun oleh para pencipta atau pengembangnya.
Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar.
Tingkah laku mengajar yang diperlukanagar model tersebut dapat dilaksanakandengan berhasil.
Lingkungan belajar yang duperlukanagar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
ada lima model pemblajaran yang dapat digunakan dalam mengelola pembelajaran, yaitu: pembelajaran langsung; pembelajaran kooperatif; pembelajaran berdasarkan masalah; diskusi; dan learning strategi.
Memilih Model Pembelajaran Yang Baik
Sebagai seorang guru harus mampu memilih model pembelajaran yang tepat bagi peserta didik. Karena itu dalam memilih model pembelajaran, guru harus memperhatikan keadaan atau kondisi siswa, bahan pelajaran serta sumber-sumber belajar yang ada agar penggunaan model pembelajara dapat diterapkan secara efektif dan menunjang keberhasilan belajar siswa.
Seorang guru diharapkan memiliki motivasi dan semangat pembaharuan dalam proses pembelajaran yang dijalaninya. Menurut Sardiman A. M. (2004 : 165), guru yang kompeten adalah guru yang mampu mengelola program belajar-mengajar. Mengelola di sini memiliki arti yang luas yang menyangkut bagaimana seorang guru mampu menguasai keterampilan dasar mengajar, seperti membuka dan menutup pelajaran, menjelaskan, menvariasi media, bertanya, memberi penguatan, dan sebagainya, juga bagaimana guru menerapkan strategi, teori belajar dan pembelajaran, dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif.
Pendapat serupa dikemukakan oleh Colin Marsh (1996 : 10) yang menyatakan bahwa guru harus memiliki kompetensi mengajar, memotivasi peserta didik, membuat model instruksional, mengelola kelas, berkomunikasi, merencanakan pembelajaran, dan mengevaluasi. Semua kompetensi tersebut mendukung keberhasilan guru dalam mengajar.
Setiap guru harus memiliki kompetensi adaptif terhadap setiap perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan di bidang pendidikan, baik yang menyangkut perbaikan kualitas pembelajaran maupun segala hal yang berkaitan dengan peningkatan prestasi belajar peserta didiknya.


3. Pengertian Model Pembelajaran Student Facilitator and Explaining

          Model Pembelajaran Student Facilitator and Explaining merupakan model pembelajaran dimana siswa/peserta didik belajar mempresentasikan ide/pendapat pada rekan peserta didik lainnya. Model pembelajaran ini efektif untuk melatih siswa berbicara untuk menyampaikan ide/gagasan atau pendapatnya sendiri.
Model pembelajaran ini akan relevan apabila siswa secara aktif ikut serta dalam merancang materi pembelajaran yang akan dipresentasikan. Untuk itu pembelajaran pada apresiasi drama akan lebih sesuai dikarenakan siswa secara aktif ikut serta baik itu dalam kegiatan apresiasi maupun bisa berupa ekspresi sastra sebagai pelakunya.


Langkah-langkah pembelajarannya :
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai/KD.
2. Guru mendemonstrasikan/menyajikan garis-garis besar materi pembelajaran.
3. Memberikan kesempatan siswa untuk menjelaskan kepada siswa lainnya, misalnya melalui bagan/peta konsep. Hal ini bisa dilakukan secara bergiliran pada siswa yang berkelompok  di depan kelas.
4. Guru menyimpulkan ide/pendapat dari siswa.
5. Siswa yang di beri tugas materi perkelompok yang  menerangkan semua materi yang disajikan saat itu.
6. Penutup
Kelebihan Model Pembelajaran Student Facilitator and Explaining
siswa diajak untuk dapat menerangkan kepada siswa lain, dapat mengeluarkan ide-ide yang ada dipikirannya sehingga lebih dapat memahami materi tersebut.



Kekurangan Model Pembelajaran Student Facilitator and Explaining:
1. Adanya pendapat yang sama sehingga hanya sebagian saja yang tampil.
2. Banyak siswa yang kurang aktif
Kesimpulan
Dalam Model pembelajaran ini akan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkap apabila siswa secara aktif ikut serta dalam merancang materi pembelajaran yang akan dipresentasikan maka siswa akan lebih bisa mengerti dan mampu memahaminya untuk mengungkapkan ide, selain itu juga dapat mengajak peserta didik mandiri dalam mengembangkan potensi mengungkapkan gagasan berpendapat. 






4. Keaktifan Siswa 

Aktif menurut kamus besar bahasa Indonesia (2002:19) berarti giat (bekerja atau berusaha), sedangkan keaktifan diartikan sebagai hal atau keadaan dimana siswa dapat aktif. Keaktifan siswa dalam belajar matematika tampak dalam kegiatan berbuat sesuatu untuk memahami materi pelajaran.
Menurut Moh User Usman (2002:26) cara yang dapat dilakukan guru untuk memperbaiki keterlibatan siswa antara lain sebagai berikut:
a. Tingkatkan persepsi siswa secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar yang
membuat respon yang aktif dari siswa
b. Masa transisi antara kegiatan dalam mengajar hendaknya dilakukan secara cepat dan
luwes

c. Berikan pengajaran yang jelas dan tepat sesuai dengan tujuan mengajar yang akan
dicapai

d. Usahakan agar pengajaran dapat lebih memacu minat siswa.
Menurut Lidgren (Moh User Usman, 2002:24) terdapat empat jenis interaksi
dalam kegiatan belajar mengajar diantaranya sebagai berikut: 





Komunikasi satu arah (gambar 1.a) merupakan komunikasi yang hanya dilakukan
oleh guru terhadap siswa, sementara siswa hanya pasif sebatas mendengarkan
Gambar 1. Interaksi Kegiatan Belajar
komunikasi dari guru. Komunikasi dari guru sudah mendapat respon balik dari siswa, tetapi tidak ada interaksi antar siswa. Interaksi yang terjadi hanya antara guru dan siswa selama pembelajaran (gambar 1.b). Komunikasi dari guru sudah mendapat respon balik dari siswa dan ada interaksi diantara siswa, tetapi belum keseluruhan siswa yang melakukan interaksi baik dengan guru maupun siswa lainnya (gambar 1.c). Komunikasi sudah berjalan baik antara guru dengan siswa maupun antara siswa dengan siswa lainnya. Dalam hal ini interaksi sudah optimal selama proses pembelajaran (gambar 1.d).
Jenis-jenis interaksi pembelajaran diatas menunjukkan derajat keaktifan siswa. Anak panah menunjukkan arah komunikasi sehingga semakin banyak ruas garis berarah menunjukkan semakin tinggi interaksi siswa. Interaksi lebih tinggi ini diperlukan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.
Keaktifan siswa merupakan suatu keadaan dimana siswa berpartisipasi secara aktif dalam pembelajaran. Dalam hal ini keaktifan siswa terlihat dari merespon pertanyaan atau perintah dari guru, mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru, berani mengemukakan pendapat, dan aktif mengerjakan soal yang diberikan guru.


5. Prestasi Belajar

Belajar merupakan salah satu dasar untuk mengetahui sejauh mana materi pelajaran yang disampaikan guru dapat diterima dan dipahami sehingga prestasi belajar.siswa dapat diketahui dari hasil tes yang diberikan. Menurut Saifudin Azwar (1998:45) prestasi merupakan hasil yang telah dicapai dari apa yang telah dilakukan dan dikerjakan secara optimal.
Menurut Dalyono (2005:55) ada beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern meliputi kesehatan, intelegensi, bakat, minat, dan motivasi, sedangkan faktor ekstern meliputi keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan sekitar. Faktor yang bersumber dari dalam diri siswa yaitu kecerdasan, minat, motivasi dan kemampuan kognitif sedangkan faktor dari lingkungan keluarga yaitu tingkat pendidikan orang tua dan jumlah anggota orang tua.
Prestasi belajar siswa merupakan hasil yang telah dicapai siswa setelah belajar dan mengerjakan secara optimal yang diperoleh dari hasil tes individu. Perbedaan kemampuan belajar siswa berpengaruh pada prestasi belajar yang dicapai dari setiap siswa karena faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa juga berbeda-beda.

6. Materi Himpunan


A. Pengertian Himpunan

Himpunan adalah kumpulan benda atau objek yang dapat didefinisikan dengan jelas. Anggota himpunan disebut anggota atau elemen himpunan.

Contoh:
1. A adalah himpunan nama kota di Jawa Tengah. Anggota himpunan A adalah Purwokerto, Semarang, Kebumen, Solo, dan lain-lainnya.

2. B adalah himpunan bilangan bulat lebih dari -3. Anggota himpunan B adalah bilangan -2,-1,0,1,2,3, ...

B. Notasi Himpunan


Penulisan himpunan ditandai dengan adanya kurung kurawal {}. Penulisan himpunan berkelanjutan dituliskan menggunakan tanda titik sebanyak tiga buah (...) untuk mengganti anggota himpunan lain yang tidak dapat dituliskan satu persatu. Anggota atau elemen suatu himpunan dinyatakan dengan notasi \in
Bila bukan anggota himpunan dinyatakan dengan notasi  \notin .

Misalkan A adalah suatu himpunan, maka bilangan yang menyatakan banyak anggota himpunan A disebut bilangan kardinal. Banyaknya anggota suatu himpunan A dituliskan dengan n(A).

Misalnya, himpunan A = {1,2,3,4,5,6}, maka banyaknya himpunan A atau n(A) = 6.

C. Menyatakan Suatu Himpunan

Suatu himpunan dapat dinyatakan dengan tiga cara, yaitu:

1. Deskripsi

Menyatakan suatu himpunan dengan kata-kata atau hanya menyebutkan sifat keanggotaannya saja.
Contoh:

A = {nama kota yang berawalan huruf B}
B = {bilangan asli kurang dari 10}
2. Tabulasi atau Roster

Menyatakan suatu himpunan dengan mendaftar anggota-anggotanya satu persatu.
Contoh:

A ={Bandung, Bogor, Banjar}
B = {1,2,3,4,5,6,7.8.9}
3. Rule

Menyatakan suatu himpunan dengan notasi pembentuk himpunan.
Contoh:

A = \left \{ x \mid x \in nama kota yang berawalan huruf B \right \}
B = \left \{ x|x< 10,x\in \right \}
D. Himpunan Bagian

Bilangan ada bermacam-macam. Diantaranya, bilangan asli, bilangan cacah, bilangan bulat, bilangan genap, dan lain-lain. Dalam himpunan penulisan bilangan-bilangan tersebut sebagai berikut:

Himpunan bilangan asli dilambangkan A (R). Dengan demikian, A = {1,2,3,4,5,...}
Himpunan bilangan cacah dilambangkan C. Dengan demikian, C = {0,1,2,3,4,5,...}
Himpunan bilangan bulat dilambangkan B. Dengan demikian B ={...,-2,-1,0,1,2,...}
Himpunan bilangan prima adalah bilangan yang memiliki tepat dua faktor, yaitu satu dan bilangan itu sendiri. Himpunan bilangan prima dilambangkan dengan P. Dengan demikian, P = {2,3,5,7,11,13,17,19, ...}
Himpunan bilangan genap dilambangkan G. Dengan demikian, G = {0,2,4,6,8,10, 12, ...}
E. Jenis-jenis Himpunan

Himpunan ada bermacam-macam. Misalnya, himpunan nol, himpunan kosong, himpunan berhingga, himpunan tak berhingga, himpunan sama, himpunan ekuivalen, dan himpunan semesta.

1. Himpunan Nol dan Himpunan Kosong

Himpunan nol adalah himpunan yang hanya memiliki satu anggota yaitu nol. Himpunan nol dilambangkan dengan {0}. Contoh: himpunan bilangan cacah yang anggotanya kurang dari satu, anggotanya hanya satu yaitu 0.

Himpunan kosong adalah himpunan yang tidak memiliki anggota. Himpunan kosong dilambangkan {} atau \O.
Contoh:
himpunan mahluk hidup yang tidak memerlukan oksigen.
himpunan bilangan negatif lebih dari satu.
2. Himpunan Terhingga dan Tidak Terhingga 

Himpunan terhingga adalah himpunan yang banyak anggotanya dapat dihitung. Contoh: himpunan bilangan cacah kurang dari 5, yaitu {0,1,2,3,4} dengan banyak anggota 5. 

Himpunan tak terhingga adalah himpunan yang banyak anggotanya tidak dapat dihitung. Contoh: himpunan bilangan bulat.

3. Himpunan Sama dan Himpunan Ekuivalen.

Himpunan A dan B dikatakan himpunan sama bila setiap anggota himpunan A dan B adalah sama, dituliskan A = B.
Contoh:
C = {d,a,p,u,r}
D = {p,u,d,a,r}
Setiap anggota himpunan C merupakan anggota himpunan D, berlaku sebaliknya. Dengan demikian, himpunan C = D.

Himpunan P dan Q dikatakan ekuivalen jika banyaknya anggota P sama dengan banyaknya anggota himpunan Q atau n(P) = n(Q), dituliskan P\sim Q.
Contoh:


R = {1,2,3,4,5}, n(R) = 5
S = {a,i,u,e,o}, n(S) = 5
Karena n(R) = n(S), maka himpunan R ekuivalen dengan himpunan S atau R\sim S

4. Himpunan Semesta

Himpunan Semesta adalah himpunan yang memuat seluruh anggota himpunan yang dibicarakan. Himpunan semesta disebut juga himpunan universum, yang dilambangkan S.
Contoh:
A = {-2,-1,0,1,2}. Berarti himpunan semesta untuk A adalah S ={bilangan bulat}, atau S = {bilangan bulat kurang dari 3}

F. Himpunan bagian

Himpunan bagian disebut juga subset. Himpunan A merupakan himpunan bagian dari B, bila setiap anggota himpunan A juga merupakan anggota B. Sebaliknya, setiap anggota himpunan B belum tentu anggota himpunan A. Himpunan A merupakan himpunan bagian B dinotasikan A \subset B.

Bila n(A) merupakan banyaknya anggota himpunan A, berarti banyaknya himpunan bagian dari A adalah: 2^{n\left ( A \right )}



B. Penelitian yang Relevan 


Saraswati, Yeni. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Student Facilitator and Explaining (SFAE) untuk Meningkatkan Minat Belajar
Fisika dan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII B SMP Negeri 1 Singosari.
Skripsi, Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing:
(I) Dr. H. Wartono, M.Pd, (II) Drs. Purbo Suwasono, M.Si.
Kata Kunci: Pembelajaran kooperatif, model Student Facilitator and Explaining
(SFAE), minat belajar, prestasi belajar.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang peneliti lakukan pada
guru bidang studi fisika yang mengajar di kelas VIII B SMP Negeri 1 Singosari
peneliti mendapat informasi bahwa prestasi belajar siswa kelas VIII B masih
rendah, hal ini didasarkan pada hasil ulangan harian pada bab bunyi pada semester
2 nilai rata-rata kelas VIII B menunjukkan nilai yang masih rendah yakni sebesar
66. Peneliti juga mendapatkan informasi bahwa minat belajar siswa masih relatif
rendah, hal ini disebabkan oleh pembelajaran yang dilakukan oleh guru bidang
studi fisika dalam pembelajaran terlihat bahwa guru masih menggunakan metode

ceramah, metode ini memebentuk siswa menjadi pasif. Pada saat proses belajar
mengajar siswa tampak bosan dan sering tidak memeperhatikan guru.Upaya yang
dilakukan untuk mengatasi masalah tesebut yaitu dengan menerapkan
pembelajaran kooperatif model student facilitator and explaining.
Penelitian ini bertujuan untuk melaksanakan pembelajaran kooperatif
model student facilitator and explaining (SFAE), meningkatkan minat belajar
fisika, dan meningkatkan prestasi belajar siswa.
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK)
dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian tindakan kelas dalam
penelitian ini adalah penelitian untuk memecahkan beberapa masalah yang ada
dalam kelas yang diteliti dengan memberikan tindakan berupa model student
facilitator and explaining yang terdiri dari 2 siklus. Subyek dalam penelitian ini
siswa kelas VIII B yang berjumlah 36 siswa. Alat pengumpul data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi dan tes pada akhir tiap siklus.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa minat belajar fisika siswa kelas VIII
B mengalami peningkatan nilai rata-rata yang cukup baik yaitu pada siklus I
sebesar 74, pada siklus II meningkat menjadi 89. Peningkatan nilai rata-rata
prestasi belajar siswa sebelum diberi tindakan sebesar 66, pada siklus I meningkat
sebesar 76, pada siklus II meningkat sebesar 87.
Keterlaksanaan pembelajaran model student facilitator and explaining
(SFAE) pada siklus I mencapai prosentase sebesar 73% dan pada siklus II
meningkat sebesar 91%.


Ilmiyah, Rosida. 2012. Penerapan Model Pembelajaran Student Facilitator And Explaining  untuk Meningkatkan Keaktifan  dan Hasil Belajar  Siswa  (Study Kasus  Siswa  Kelas  X  APK  SMK  Wisnuwardhana  Malang  Pada  Mata Pelajaran  Mengaplikasikan  Keterampilan  Dasar  Komunikasi).  Skripsi, Jurusan  Manajemen,  Fakultas  Ekonomi,  Universitas  Negeri  Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Heri Pratikto, M. Si, (II) Drs. Sarbini.

Berdasarkan  hasil  pengamatan  dilokasi  penelitian,  hasil  belajar  dan keaktifan  siswa  cenderung  menurun  dikarenakan  guru  mata  pelajaran mengaplikasikan  keterampilan  dasar  komunikasi  masih  menggunakan  metode konvensional  dalam  mengajar.  Sehingga  siswa  cenderung  diam  dan  tidak memperhatikan  guru  saat  mengajar  karena  siswa  merasa  tidak  tertarik  untuk mengikuti pembelajaran yang cenderung monoton. Dengan demikian, untuk dapat lebih  meningkatkan  hasil  belajar  dan  keaktifan  siswa,  perlu  dilakukan  variasi dalam  proses  belajar  mengajar,  misalnya  dengan  pembelajaran  kooperatif.
Pembelajaran  kooperatif  terdapat  beberapa  model  pembelajaran,  salah  satunya adalah  model  Student  Facilitator  And  Explaining.  Melalui  pembelajaran kooperatif model Student Facilitator And Explaining,  siswa dilatih bekerjasama, saling  mendengarkan  pendapat  teman  dan  bertanggung  jawab  menunjukkan penguasaanya terhadap materi yang ditugaskan oleh guru. 
Penelitian  ini  menggunakan  pendekatan  kualitatif  dengan  jenis  penelitian adalah  Penelitian  Tindakan  Kelas  (PTK)  dengan  pembelajaran  model  Student Facilitator  And  Explaining  yang  dilaksanakan  dalam  2  siklus  dengan  subyek penelitian  siswa  kelas  X  APK  SMK  Wisnuwardhana  Malang.  Data  penelitian diperoleh  melalui  observasi,  wawancara,  tes,  angket,  catatan  lapangan,  dan dokumentasi.  Data  yang  terkumpul  dianalisis  secara  kualitatif.  Analisis  data dalam  penelitian  ini  dilakukan  melalui  tiga  tahap,  yaitu:  1)Reduksi  data, 2)Penyajian data, dan 3)Penyimpulan hasil analisis. Tujuan penelitian  ini adalah, untuk  mendiskripsikan  penerapan  model  pembelajaran  Student  Facilitator  And Explaining,  untuk  mengetahui  model  pembelajaran  Student  Facilitator  And Explaining  dapat  meningkatkan  keaktifan  dan  hasil  belajar  siswa,  untuk mengetahui  respon  siswa  kelas X APK  SMK Wisnuwardhana Malang  terhadap proses pembelajaran Student Facilitator And Explaining.
Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa  1)  penerapan  model  Student Facilitator And Explaining meliputi, pertama siswa dibentuk kedalam kelompok-kelompok,  kedua  siswa  diberi  sub  materi  yang  akan  didiskusikan  dalam kelompok, ketiga tiap-tiap kelompok dipersilahkan untuk mempresentasikan hasil diskusi,  yang  keempat  guru menerangkan  kembali materi  yang  belum  dipahami siswa,  2)  penerapan  model  Student  Facilitator  And  Explaining  terbukti  dapat meningkatkan  hasil  belajar  dan  keaktifan  siswa.  Perbandingan  nilai  awal  siswa dengan  nilai  posttest  1  dan  posttest  2  adalah  52,81  mengalami  peningkatan sebesar  19,8  menjadi  72,6,  3)  Untuk  data  aktivitas  siswa  dari  hasil  penelitian menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan yaitu rata-rata aktivitas  belajar  siswa  pada  siklus  I  sebesar  70,36%  pada  tingkat  baik menjadi 84% pada siklus II, 4) Sedangkan dari data respon siswa dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa lebih senang belajar dengan metode pembelajaran kooperatif khususnya  model  Student  Facilitator  And  Explaining,  dan  siswa  lebih  mudah memahami  materi  dengan  menggunakan  model  Student  Facilitator  And Explaining,  sehingga  berdampak  positif  bagi  peningkatan  hasil  belajar  dan keaktifan siswa.
Saran  yang  direkomendasikan  terkait  dengan  hasil  penelitian  ini  adalah gunakan model pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar  siswa,  guru  dihimbau  untuk  mengajak  siswa  mengadakan  diskusi kelompok,  dan  sediakan  modul  khusus  untuk  menunjang  proses  belajar.  Bagi siswa,  belajar  yang  rajin  jangan  hanya  mengandalkan  guru  sebagai  sumber belajar. Untuk penelitian selanjutnya hendaknya model ini dikembangkan lagi dan tidak  hanya  dalam  mata  pelajaran  mengaplikasikan  keterampilan  dasar komunikasi  tetapi  di mata  pelajaran  yang  lain  juga,  pemberian motivasi  untuk siswa harus lebih ditingkatkan agar siswa lebih antusias dalam belajar.
 





C. Kerangka Berfikir 

Upaya yang diperlukan untuk mendorong siswa aktif dalam kegiatan belajar di kelas selalu bergantung pada guru. Keaktifan siswa belum berkembang selama proses pembelajaran yang berdampak pada prestasi belajar siswa masih rendah dalam mempelajari materi persamaan eksponen. Hal ini yang menjadi indikator perlunya upaya untuk membantu siswa agar dapat mempelajari materi persamaan eksponen  dengan lebih baik sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Penerapan metode projeck berorientasi IT  lebih mendorong kemandirian, keaktifan dan tanggung jawab dalam diri siswa.

Kerangaka penelitian tindakan kelas digambarkan sebagai berikut:




.

D. Hipotesis Tindakan 

Berdasarkan kerangka berpikir di atas maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini Gambar 2. Alur Kerangka Berpikir
1. Penerapan model pembelajaran student fasilitator end explaining  dapat meningkatkan keaktifan
belajar siswa pada materi himpunan di kelas 7-7  SMP  Negeri 42 Bandung
2. Penerapan model pembelajaran student fasilitator end explaining    dapat meningkatkan prestasi belajar
siswa pada materi Himpunan di kleas 7-7  SMP  Negeri 42 Bandung

E. Indikator Keberhasilan 

Indikator keberhasilan penelitian ini adalah meningkatnya keaktifan dan prestasi belajar siswa kelas 7-7 SMP   Negeri 42 Bandung. Peningkatan keaktifan belajar siswa dilihat dari aktivitas belajar selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Sedangkan peningkatan prestasi belajar siswa dilihat dari hasil tes siswa melalui penerapan metode pembelajaran dengan menggunakan kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan oleh sekolah yaitu dengan nilai ketuntasan 70.


BAB II
METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat  Penelitian
pertanyaan pembelajaran ini saat pelajaran himpunan  dilakukan di SMP  Negeri 42 Bandung pada semester genap bulan januari   sampai bulan maret .

B. Subjek & Objek Penelitian 

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 7-7   SMP Negeri 42 Bandung, yaitu 4o siswa yang terdiri dari 22 siswa putri dan 18 siswa putra. Dan obyek penelitian ini adalah penerapan 
model pembelajaran student fasilitator end explaining 

C. Desain Penelitian

.jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilakukan secara kolaboratif. Dalam penelitian kolaboratif pihak yang melakukan tindakan adalah guru itu sendiri sedangkan yang diminta melakukan pengamatan terhadap berlangsungnya proses tindakan adalah peneliti (Suharsimi Arikunto, 2002:17).  
1.  Perencanaan (plan) 
2.  Tindakan (act)
3. Pengamatan (observe)
4.  Refleksi (reflect).

Dalam penelitian ini dilakukan dalam tiga siklus. Siklus dihentikan apabila kondisi kelas sudah stabil dalam hal ini guru sudah mampu menguasai keterampilan belajar yang baru dan siswa terbiasa dengan Metode Projek dalam pembelajaran  serta data yang ditampilkan di kelas sudah jenuh dalam arti sudah ada peningkatan keaktifan dan prestasi belajar siswa (Rochiati Wiriaatmadja, 2005:103). Alur penelitiannya adalah:



D. Tahapan Penelitian 

1. Tahapan Penelitian Siklus I

 a. Perencanaan

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, lembar kerja siswa, lembar observasi keaktifan, lembar angket respon siswa, lembar observasi pelaksanaan  model pembelajaran student fasilitator end explaining  

B. Tindakan

Pelaksanaan tindakan pada siklus pertama dilakukan dalam tiga kali pertemuan.
Tahap tindakan dilakukan oleh guru dengan menerapkan model pembelajaran student fasilitator end explaining  Proses pembelajaran dilakukan sesuai dengan jadwal pelajaran matematika kelas 7-7 Materi yang akan diberikan adalah materi himpunan . Adapun tindakan yang dilakukan pada tiap siklus yaitu:

Pendahuluan

Guru menyampaikan presentasi kelas dengan memberikan apersepsi dan motivasi kepada siswa dalam mempelajari materi Himpunan 
.
2) Kegiatan Inti

a). Siswa belajar dalam kelompok
b). Guru memberi kesempatan untuk duduk du depan bersama    
     Anggota kelompok  nya sebagai pemberi materi dan menjelaskan      
     Nya secara singkat
c). Siswa mengerjakan memberikan pertanyaan  secara kelompok 
d). Pembahasan pertanyaan konfirmasi kolaborasi &komunikasi 
e). Pemberian Penghargaan Kelompok






3). Penutup 

Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang telah berhasil   
kriteria keberhasilan tertentu.

C. Observasi 

Dilakukan selama proses pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan dan mencatat kejadian-kejadian yang tidak terdapat dalam lembar observasi dengan membuat lembar catatan lapangan. Hal-hal yang diamati selama proses pembelajaran adalah kegiatan pembelajaran dan aktivitas guru maupun siswa selama pelaksanaan pembelajaran.

D. Refleksi

Pada tahap ini peneliti bersama guru melakukan evaluasi dari pelaksanaan tindakan
pada siklus I yang digunakan sebagai bahan pertimbangan perencanaan pembelajaran siklus berikutnya. Jika hasil yang diharapkan belum tercapai maka dilakukan perbaikan yang dilaksanakan pada siklus kedua dan seterusnya.

2. Tahapan penelitian siklus II dan siklus III

Rencana tindakan siklus II dimaksudkan sebagai hasil refleksi dan perbaikan
terhadap pelaksanaan pembelajaran pada siklus I. Sedangkan kegiatan pada siklus III dimaksudkan sebagai hasil refleksi dan perbaikan terhadap pelaksanaan pembelajaran pada siklus II. Tahapan tindakan siklus II dan siklus III mengikuti tahapan tindakan siklus I


E. Tehnik Pengumpulan Data 

Tehnik pengumpulan data yang di gunakan adalah : 

Observasi 

Dalam penelitian ini terdapat dua pedoman observasi yaitu observasi keaktifan siswa dan obsevasi pelaksanaan pembelajaran metode projek. Observasi keaktifan siswa difokuskan pada pengamatan keaktifan siswa selama proses pembelajaran pada materi persamaan Eksponen . Sedangkan observasi pelaksanaan pembelajaran  difokuskan pada aktivitas guru maupun siswa selama proses pembelajaran. Dan pengamatan yang belum terdapat pada pedoman observasi dituliskan pada lembar catatan lapangan.

2. Angket 

Angket dibagikan dan diisi oleh siswa yang fungsinya untuk mengetahui respon
siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran matematika dengan penerapan model pembelajaran student facilitator end explaining  

3. Wawancara

Wawancara dilakukan dengan cara bertanya kepada guru dan siswa mengenai proses pembelajaran dengan menggunakan student facilitator end explaining  



4. Test

Test Digunakan  berupa test untuk  individu yang fungsinya untuk mengetahui tingkat
pemahaman siswa setelah mempelajari materi himpunan  dengan menggunakan student facilitator end explaining  



5. Dokumentasi 

.Dokumentasi diperoleh dari hasil kuis siswa, lembar observasi, lembar wawancara, catatan lapangan, daftar kelompok siswa, dan foto-foto selama proses pembelajaran.


F. Instrumen penelitian 

peneliti 

Peneliti merupakan instrumen karena peneliti sekaligus sebagai perencana,
pelaksana, pengumpul data, penganalisis, penafsir data dan pada akhirnya menjadi
pelapor penelitiannya (Lexy J. Moleong 2007: 168)

2. Lembar observasi 

Dalam penelitian ini digunakan dua lembar observasi yaitu lembar observasi pelaksanaan pembelajaran di kelas  dan lembar keaktifan siswa. Lembar observasi pelaksanaan metode Projek  digunakan sebagai pedoman peneliti dalam melakukan observasi pelaksanaan pembelajaran metode Projek. Sedangkan lembar observasi keaktifan siswa digunakan pada setiap pembelajaran sehingga kegiatan observasi tidak terlepas dari konteks permasalahan dan tujuan penelitian.

3. Pedoman Wawancara

Pedoman wawancara ini digunakan untuk mengetahui respon atau tanggapan guru
dan siswa mengenai proses pembelajaran dengan menggunakan  Metode Projek.

4. Angket 

Angket yang akan digunakan adalah angket tertutup dengan alternatif jawaban yaitu selalu, sering, kadang-kadang dan tidak pernah. 

5. Test

Dalam model pembelajaran   student facilitator end explaining  
digunakan pre test, post test, dan
kuis individu. Tes ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana  prestasi siswa mengenai materi persamaan himpunan  dengan penerapan student facilitator end explaining  


6. Dokumentasi 

Dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah silabus, rencana
pelaksanaan pembelajaran, daftar nilai siswa, daftar kelompok, dokumen guru mengenai
nilai siswa semester ganjil, dan foto-foto selama proses pembelajaran.

7. Catatan Lapangan 

Catatan lapangan merupakan catatan tertulis tentang hasil pengamatan di kelas yang tidak terdapat di lembar observasi. Dalam penelitian ini catatan lapangan digunakan untuk mengamati hal-hal yang terjadi selama penerapan model pembelajaran student facilitator end explaining  



G. Tehnik Analisis Data

Teknik analisis yang digunakan adalah reduksi data yaitu kegiatan pemilihan data, penyederhanaan data serta transformasi data kasar dari hasil catatan lapangan. Penyajian data berupa sekumpulan informasi dalam bentuk tes naratif yang disusun, diatur dan diringkas sehingga mudah dipahami. Hal ini dilakukan secara bertahap kemudian dilakukan penyimpulan dengan cara diskusi bersama mitra kolaborasi. Untuk menjamin pemantapan dan kebenaran data yang dikumpulkan dan dicatat dalam penelitian digunakan triangulasi. Triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada (Sugiyono, 2005:83).

1. Analisis Data 

Data hasil observasi dianalisis untuk mengetahui keaktifan siswa yang berpedoman pada lembar observasi keaktifan siswa. Penilaian dilihat dari hasil skor pada lembar observasi yang digunakan. Persentase diperoleh dari skor pada lembar observasi dikualifikasikan untuk menentukan seberapa besar keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Untuk setiap siklus persentase diperoleh dari rata-rata persentase keaktifan siswa pada tiap pertemuan. Hasil data observasi ini dianalisis dengan pedoman kriteria sebagai berikut:







Peneliti menggunakan kriteria tersebut karena dalam lembar observasi terdapat empat kriteria penilaian, sehingga terdapat empat kriteria keaktifan. Cara menghitung persentase keaktifan siswa (Sugiyono, 2001:81) berdasarkan lembar observasi untuk tiap pertemuan adalah sebagai berikut:






. 2. Analisis Angket Respon Siswa 

Angket respon siswa terdiri dari 14 butir pertanyaan dengan rincian 12 butir pertanyaan positif (+) ada 2 butir pertanyaan negatif (-). Penskoran angket untuk butir (+) adalah 4 untuk jawaban selalu, 3 untuk jawaban sering, 2 untuk jawaban kadang-kadang dan 1 untuk jawaban tidak pernah. Untuk butir (-) adalah skor 1 untuk jawaban selalu, 2 untuk jawaban sering, 3 untuk jawaban kadang-kadang dan 4 untuk jawaban tidak pernah. Data hasil angket dibuat kualifikasi dengan kriteria sebagai berikut

Peneliti menggunakan kriteria tersebut karena dalam angket respon terdapat empat pilihan jawaban sehingga terdapat empat kriteria respon. Cara menghitung persentase angket respon menurut Sugiyono (2001:81) adalah sebagai berikut:


Persentase =          Jumlah skor hasil pemgumpulan data           X 100%
                      Jumlah skor bila setiap butir mendapat skor tertinggi


3. Analisis Hasil Belajar Siswa

Hasil tes siswa dianalisis untuk menentukan peningkatan ketuntasan siswa, nilai individu,
skor kelompok dan penghargaan kelompok.

a . Peningkatan ketuntasan mengikuti ketentuan sekolah bahwa ”siswa dinyatakan lulus
dalam setiap tes jika nilai yang diperoleh ≥ 60 dengan nilai maksimal 100”. Maka dalam penelitian ini juga menggunakan ketentuan yang ditetapkan sekolah, untuk menentukan persen (%) ketuntasan siswa dengan menggunakan perhitungan persen (%) ketuntasan yaitu sebagai berikut:

Persen (%) ketuntasan : Jumlah siswa tuntas × 100% 
                                                                  Jumlah  siswa



       Peningkatan prestasi siswa juga dilihat dari hasil belajar jangka pendeknya yang ditunjukkan dengan kenaikan nilai rata-rata tes pada setiap siklus. Dari data perolehan


         b. Peningkatan prestasi siswa juga dilihat dari hasil belajar jangka pendeknya yang ditunjukkan dengan kenaikan nilai rata-rata tes pada setiap siklus. Dari data perolehan scor untuk setiap tes, rata-rata nilai siswa dengan menggunakan perhitungan sebagai berikut :








dengan x = Nilai siswa ; n = Jumlah siswa.


         c. Peningkatan nilai individu siswa diperoleh dengan membandingkan skor dasar siswa (rata-rata nilai tes siswa sebelumnya) dengan nilai kuis sekarang. Aturan pemberian skor peningkatan individu mengikuti aturan dalam Slavin (1995:80) seperti pada halaman 10.

         d.. Perolehan penghargaan kelompok dengan melihat jumlah rata-rata skor tiap kelompok. Aturan perolehan penghargaan kelompok mengikuti aturan dalam Mohamad Nur (2005:36) seperti pada halaman 12.











DAFTAR PUSTAKA



Dalyono. 2005. Psikologi Pendididkan, Jakarta: Rineka Cipta.


Lexy J Moleong. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Moh User Usman,. 2002. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Rully Indrawan,2014. Metodologi Penelitian . Bandung: PT Reflika aditama

Muhibbin Syah. 2005. Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Oemar Hamalik. 2003. Kurikulun dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Ponco Sujatmiko. 2005. Matematika Kreatif: Konsep dan Terapannya. Yogyakarta:Tiga Serangkai .

Pusat Bahasa Depdiknas. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Rochiati Wiriaatmadja. 2005. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Saifudin Azwar. 1998. Tes Prestasi II. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suharsimi Arikunto. 2002. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Milan riyanto.2006. Pendekatan strategi dan metode pembelajaran. Jakarta. Departemen pendidikan Nasional. 


Sumber: : http://jurnalbidandiah.blogspot.com/2012/04/pengertian-model-pembelajaran-student.html#ixzz3xET7vqcD 


























Lampiran 

Contoh instrumen

Kuesioner Kemandirian Belajar

Identitas Pengisi: Nama :
 Sekolah :
          Kelas     :

Petunjuk Pengisian: 
Tulislah identitas Anda pada tempat yang tersedia 
Kerjakan soal sesuai dengan petunjuk yang diberikan
Pilih jawaban yang paling sesuai dengan kondisi Anda
Angket ini hanya untuk kepentingan ilmiah dan jawaban Anda TIDAK akan berpengaruh pada NILAI serta menjadi RAHASIA
 Selamat mengerjakan dan terima kasih

Contoh Cara Menjawab di silang ! 
Cara menjawab yang benar 
1. Yang termasuk software adalah… 
a. Windows 8 
b. Keyboard 
c. Hardisk 
d. Monitor

Jika terjadi kesalahan menjawab 
1. Yang termasuk software adalah… 
a. Windows 8 
b. Keyboard
c.. Hardisk 
d. Monitor





Pilih  jawaban yang paling sering Anda lakukan dengan cara memberikan tanda silang (X) pada pilihan jawaban tersebut, jawaban tidak boleh lebih dari satu!

Yang saya lakukan jika guru saya menawari saya untuk mengikuti Lomba Keterampilan Siswa (LKS) adalah                                          a. Menerima tawaran dari guru dan berusaha mandiri                              
      b. menerima akan tetapi dengan didampingi oleh guru                                       .     c .kesempatan pada teman yang lebih bisa dari saya  
      d.. menolak karena saya kurang berminat
 
2.  Ketika pelajaran matematika  berlangsung, yang saya lakukan adalah..
. a. memperhatikan dengan seksama penjelasan guru dan mencatat
  b. sekedar memperhatikan agar ketika ulangan saya bisa mengerjakan   . c. tidak memperhatikan dan meminjam catatan teman untuk disalin 
  d. tidak memperhatikan dan tidak mencatat pelajaran karena tidak      tertarik

4. Besok saya akan ada presentasi  materi baru , yang saya lakukan… a. belajar mempraktekkan dulu di rumah agar mengerti 
b. mencari contoh dari buku atau internet untuk dibaca 
c. hanya mencari contoh dari internet untuk jaga-jaga 
d. tidak ingin tahu karena kurang suka 

5. Saya lebih suka mengerjakan PR atau tugas dengan… 
mengerjakannya sendiri 
b. kerja kelompok bersama teman 
Dibantu orang lain 
Minta dikerjakan saudara yang saya anggap mampu

6. Ketika saya mendapat tugas atau PR, saya akan… 
langsung mengerjakannya hari itu juga
Mencicil tugas di waktu luang 
menunda mengerjakan untuk meminta contekan teman yang sudah selesai
 mengerjakan di hari terakhir pengumpulan tugas

7. Setiap ada PR atau tugas, saya selalu berusaha mengerjakan dengan …
 a. baik sesuai dengan ketentuan
 b. sebisanya asal jadi (selesai) 
 c. mencontek pekerjaan teman
d. mengcopy-paste dari internet

8. Waktu belajar saya adalah…
  a.  teratur sesuai jadwal yang saya buat 
  b. memanfaatkan waktu luang untuk belajar 
  c. hanya pada saat yang memungkinkan saja
  d. ketika mendapat PR atau akan ulangan saja

9. Saya menemukan soal yang saya anggap sulit ketika ujian berlangsung, yang saya lakukan… 
berusaha menyelesaikan sendiri dengan kemampuan yang saya miliki
 berusaha menyelesaikan sendiri dengan melirik pekerjaan teman-teman
. menyelesaikan dengan mencontek dan menyalin pekerjaan teman 
 menyelesaikan dengan mencari jawaban di buku atau internet

10. Ketika ditunjuk guru untuk menjawab pertanyaan dan jawaban saya kurang tepat, yang saya lakukan adalah… 
tidak merasa malu dan tidak terpengaruh serta akan terus belajar 
cuek, namanya juga masih belajar 
Biasa saja karena memang itu jawaban sebisa saya
Saya merasa malu dan akan menolak apabila ditunjuk lagi

11. Sebelum belajar, saya memahami terlebih dulu tujuan yang ingin saya capai dalam pembelajaran. 
selalu 
kadang-kadang
 sering
. tidak pernah

12. Dengan memahami tujuan belajar, saya akan mengetahui maksud sehingga mampu mengatur strategi dan evaluasi belajar saya. 
sangat setuju
 kurang setuju
. setuju
 tidak setuju

13. Saya mengerjakan soal latihan meskipun bukan tugas dari sekolah.  a. selalu
b. kadang-kadang
c. sering
d. tidak pernah

14. Saat di rumah, saya membaca lagi catatan pelajaran dari sekolah.
 a. selalu
 b. kadang-kadang 
 c. Sering
 d. tidak pernah

15. Saya mengerjakan latihan soal untuk mengetahui sejauh mana kemampuan saya.
 a. selalu
 b. kadang-kadang 
 c.  sering 
 d. tidak pernah





















Instrumen kualitatif 

Dalam penelitian kualitatif, peneliti merupakan instrumen utama dalam mengumpulkan data dan menginterpretasikan data dengan dibimbing oleh pedoman wawancara dan pedoman observasi. Dengan mengadakan observasi dan wawancara mendalam dapat memahami makna interaksi sosial. mendalami perasaan dan nilai-nilai yang tergambar dalam ucapan dan perilaku responden. Agar penelitian ini terarah, peneliti terlebih dahulu menyusun kisi-kisi instrumen penelitian yang selanjutnya dijadikan acuan untuk membuat pedoman wawancara dan observasi. Adapun kisi-kisi untuk pedoman wawancara adalah sebagai berikut:

Sedangkan untuk observasi peneliti membagi pengamatan dalam kegiatan awal, inti, dan penutup. Adapun kisi-kisi untuk pedoman observasi adalah sebagai berikut:

Tabel 3. Kisi-Kisi Pedoman Observasi


















































































Student facilitator and explaining

Sebagai sampel adalah siswa smp negeri 42 Bandung kelas 7 & 8 
Oleh : Lilis Kartika SPd
Sekolah  S2 nya di UNPAS lagi berjalan
Follow IG "Teacher_Abad21"



Adalah suatu model pembelajaran yang dapat mengaktif kan siswa belajar matematika secara aktif kreatif 



Salah satu tujuan pembelajaran matematika adalah siswa memiliki kemampuan berpikir kritis dan kreatif, dan pemecahan masalah (Depdiknas, 2002) Kemampuan ini sangat diperlukan khususnya dalam menghadapi perkembangan IPTEKS yang semakin pesat dan diwarnai oleh suasana global selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif. Pembelajaran hendaknya berlandaskan konstruktivisma, berpusat pada siswa, dan belajar dengan pemahaman melalui belajar dengan melakukan, serta mengacu pada empat pilar UNESCO (Soedijarto, 2004) yaitu: learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together.
Sebagai implikasi dari prinsip di atas, maka bahan ajar matematika hendaknya disusun sedemikian sehingga memberi kesempatan kepada siswa untuk berkembangnya: (1) kemampuan mengkonstruksi konsep dan teorema berdasarkan pada pengalaman dan pengetahuan yang sudah dimilikinya; (2) kemampuan berpikir tingkat
tinggi misalnya berpikir kritis dan kreatif melalui soal-soal pemecahan masalah; (3) kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi, (4) sifat menghargai dan memahami pendapat yang berbeda serta saling menyumbang ide melalui kerja kelompok; dan (6) sikap kerja keras, ulet, disiplin, jujur, serta motif berprestasi dalam matematika. Saran terhadap pembelajaran matematika di atas, sejalan dengan pendapat beberapa pakar antara lain: (1) pembelajaran matematika harus memberikan peluang kepada siswa untuk belajar berpikir matematis (Surakhmad, 2004), (2) pembelajaran merupakan kegiatan atau upaya yang dilakukan oleh guru agar siswa belajar (Sukmadinata, 2004), (3) pembelajaran hendaknya memberi peluang kepada siswa untuk mengembangkan zona perkembangan proximalnya melalui berbagai jenis bantuan yang tidak langsung (Vygotsky dalam Budiningsih, 2005).

Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dinyatakan bahwa salah satu tujuan Negara Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk itu setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya tanpa memandang status sosial, ras, etnis, agama, dan gender. Pemerataan dan mutu pendidikan akan membuat warga negara memiliki keterampilan hidup (life skill) sehingga memiliki kemampuan mengenal dan mengatasi masalah diri dan lingkungannya, mendorong tegaknya masyarakat madani dan modern yang dijiwai nilai-nilai Pancasila.Pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan ketrampilan siswa dalam menghadapi tantangan abad 21. Dabbagh (2007) memberikan karakteristik ketrampilan abad 21 sebagai berikut:
1. Keterampilan Belajar Sosial; keterampilan ini meliputi kemampuan mengambil keputusan, berkomunikasi, membangun kepercayaan, dan manajemen konflik yang kesemuanya itu merupakan komponen penting atau unsur utama dari kolaborasi yang efektif. Hal ini diperlukan untuk membangun leadership dan menjadi bagian dari suatu tim, dimanapun berada baik sebagai karyawan, maupun sebagai anggota sosial masyarakat baik skala mikro (keluarga) sampai skala internasional.
2. Keterampilan Dialogis (Discursive Skills); keterampilan ini meliputi kemampuan mendiskusikan suatu isu secara kritis, berbagi ide dan argumentasi secara rasional dan logis, bernegosiasi dan menunjukkan keterbukaan (berpikiran positif) terhadap berbagai perspektif yang berbeda serta mampu menjadi pendengar efektif.
3. Keterampilan evaluasi diri dan kelompok (introspeksi); artinya kemampuan diri untuk akuntabel terhadap segala sesuatu yang dibebankan di pundaknya dan timnya, aktif dan komitmen terhadap aktifitas kelompoknya, bekerja dengan penuh tanggung jawab, saling membantu dan saling mengisi. Dalam hal ini, setiap individu harus memiliki kemampuan berpikir sistemik, sehingg setiap permasalahan dilihat dari berbagai perspektif dan tidak mengkambing hitamkan orang lain.
4. Keterampilan refleksi; ini adalah kemampuan untuk mengambil hikmah/pelajaran dari berbagai hal. Lebih jauh lagi adalah kemampuan untuk melakukan perubahan (membebaskan diri dari status quo), menerima input, masukan dan kritik dari pihak luar, serta memperbaiki diri maupun kelompok secara terus menerus.
Membangun siswa agar memiliki keterampilan abad 21 tersebut merupakan suatu tantangan tersendiri. Paradigma pembelajaran lama sudah tidak bisa lagi dipertahankan. Paradigma pendidikan modern yang lebih bersifat student-centered dan constructive learning sebaiknya segera dilakukan mulai saat ini, mulai dari hal yang kecil/sederhana. Paradigma pembelajaran konvensional berubah. Pembelajaran berpusat pada guru, berubah menjadi pembelajaran berpusat pada siswa. Siswa mengkonstruk sendiri pengetahuannya, belajar melalui penemuannya dan siswa dapat menentukan sendiri tingkat capaian pembelajarannya. Peran guru berkembang menjadi fasilitator. Memfasilitasi siswa untuk melakukan pembelajaran. Guru lebih banyak menyiapkan alat bantu (scaffolding) bagi proses pembelajaran, dan memastikan bahwa standar tercapai. Mutu pendidikan dan pembelajaran di sekolah sangat tergantung dari ketrampilan dan kemampuan guru dalam mengelola dan memilih metode pembelajaran yang tepat bagi anak didiknya. Pada abad 21 nanti, ketika profesionalisme guru menjadi prasyarat utama dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan nasional maka hal-hal yang berkait dengan upaya peningkatan kualitas guru harus sudah bisa diklarifikasi. Dengan kata lain pada abad 21 sistem kesejahteraan guru di Indonesia haruslah dapat ditangani secara lebih baik sehingga benar-benar sebanding dengan beratnya tantangan serta kompleksnya tugas, begitu pula sistem pengadaan, pengelolaan, dan pengembangan karir guru harus ditangani secara baik pula sehingga dapat memotivasi guru untuk berperilaku secara profesional demi mewujudkan para guru abad 21 .
  Menurut International Society for Technology in Education karakteristik keterampilan guru abad 21 dimana era informasi menjadi ciri utamanya, membagi keterampilan guru abad 21 kedalam lima kategori, yaitu :

1.        Mampu memfasilitasi dan menginspirasi belajar dan kreatifitas siswa, dengan indikator diantaranya adalah sebagai berikut :

·       Mendorong, mendukung dan memodelkan penemuan dan pemikiran kreatif dan inovatif.

·       Melibatkan siswa dalam menggali isu dunia nyata (real world) dan memecahkan permasalahan otentik menggunakan tool dan sumber-sumber digital.

·       Mendorong refleksi siswa menggunakan tool kolaboratif untuk menunjukan dan mengklarifikasi pemahaman, pemikiran, perencanaan konseptual dan proses kreatif siswa.

·       Memodelkan konstruksi pengetahuan kolaboratif dengan cara melibatkan diri belajar dengan siswa, kolega, dan orang-orang lain baik melalui aktifitas tatap muka maupun melalui lingkungan virtual.

2.        Merancang dan mengembangkan pengalaman belajar dan asessmen era digital, dengan indikator sebagai berikut :

·       Merancang atau mengadaptasi pengalaman belajar yang tepat yang mengintegrasikan tools dan sumebr digital untuk mendorong belajar dan kreatifitas siswa.

·       Mengembangkan lingkungan belajar yang kaya akan teknologi yang memungkinkan semua siswa merasa ingin tahu dan menjadi partisipan aktif dalam menyusun tujuan belajarnya, mengelola belajarnya sendiri dan mengukur perkembangan belajarnya sendiri.

·       Melakukan kostumisasi dan personalisasi aktifitas belajar yang dapat memenuhi strategi kerja gaya belajar dan kemampuan menggunakan tools dan sumber-sumber digital yang beragam.

·       Menyediakan alat evaluasi formatif dan sumatif yang bervariasi sesuai dengan standar teknologi dan konten yang dapat memberikan informasi yang berguna bagi proses belajar siswa maupun pembelajaran secara umum.

3.        Menjadi model cara belajar dan bekerja di era digital, dengan indikator sebagai berikut :

·       Menunjukkan kemahiran dalam sistem teknologi dan mentransfer pengetahuan ke teknologi dan situasi yang baru.

·       Berkolaborasi dengan siswa, sejawat, dan komunitas menggunakan tool-tool dan sumber  digital untuk mendorong keberhasilan dan inovasi siswa.

·       Mengkomunikasikan ide/gagasan secara efektif  kepada siswa, orang tua, dan sejawat menggunakan aneka ragam format media digital.

·       Mencontohkan dan memfasilitasi penggunaan secara efektif daripada tool-tool digital terkini untuk menganalisis, mengevaluasi dan memanfaatkan sumber informasi tersebut untuk mendukung penelitian dan belajar.

4.        Mendorong dan menjadi model tanggung jawab dan masyarakat digital, dengan indikator diantaranya sebagai berikut :

·       Mendorong, mencontohkan, dan mengajar secara sehat, legal dan etis dalam menggunakan teknologi informasi digital, termasuk menghagrai hak cipta, hak kekayaan intelektual dan dokumentasi sumber belajar.

·       Memenuhi kebutuhan pembelajar yang beragam dengan menggunakan strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan memberikan akses yang memadai terhadap tool-tool digital dan sumber belajar digital lainnya.

·       Mendorong dan mencontohkan etika digital tanggung jawab interkasi sosial terkait dengan penggunaan teknologi informasi.

·       Mengembangkan dan mencontohkan pemahaman budaya dan kesadaran global melalui keterlibatan/partisipasi dengan kolega dan siswa dari budaya lain menggunakan tool komunikasi dan kolaborasi digital.

5.        Berpartisipasi dalam pengembangan dan kepemimpinan profesional, dengan indikator sebagai berikut :

·       Berpartisipasi dalam komunitas lokal dan global untuk menggali penerapan teknologi kreatif untuk meningkatkan pembelajaran.

·       Menunjukkan kepemimpinan dengan mendemonstrasikan visi infusi teknologi, berpartisipasi dalam pengambilan keputusan bersama dan penggabungan komunitas, dan mengembangkan keterampilan kepemimpinan dan teknologi kepada orang lain.

·       Mengevaluasi dan merefleksikan penelitian-penelitian dan praktek profesional terkini terkait dengan penggunaan efektif daripada tool-tool dan sumber digital untuk mendorong keberhasilan pembelajaran.

·       Berkontribusi terhadap efektifitas, vitalitas, dan pembaharuan diri terkait dengan profesi  guru baik di sekolah maupun dalam komunitas..Pengajaran konvensional saat ini memicu banyak masalah dan menjadi salah satu kendala dalam mencapai keberhasilan pembelajaran matematika saat ini, hanya siswa yang rajin yang pandai menyimak saja yang mempunyai keberhasilan dalam pembelajarn matematika . Siswa lain yang tidak pandai menyimak tidak pandai menyerap akan jauh tertinggal dengan siswa  yang mempunyai kelebihan bisa menyerap pelajaran dengan baik. Hal ini menjadi suatu dilema bagi guru satu sisi dengan pembelajaran konvensional materi banyak yang dapat tersampaikan sisi lain bagi siswa yang kurang dalam menyerap materi pembelajaran akan jauh tertinggal dengan teman teman nya. Hal ini memotivasi saya  untuk dapat meneliti sejauh mana keberhasilan  PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN STUDENT FACILITATOR AND EKSPLAINING  MELALUI KEGIATAN PRESENTASI SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN  BERFIKIR KRITIS PADA SISWA  SMP 


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Satuan Pendidikan: SMP NEGERI 42 BANDUNG
Kelas/Semester : VII/1
Mata Pelajaran    : Matematika
Topik   : ALJABAR
Waktu : 2 × 40 menit

Tujuan Pembelajaran : 

Dengan kegiatan diskusi dan pembelajaran kelompok dalam pembelajaran materi penjumlahan Aljabar ini diharapkan siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran dan bertanggungjawab dalam menyampaikan pendapat, menjawab pertanyaan, memberi saran dan kritik, serta dapat menentukan penjumlahan bentuk Aljabar  yang meliputi:

Menyebutkan koefien,variabel dan konstanta
Menentukan penjumlahan aljabar beberapa suku

Kompetensi Dasar 

Memiliki motivasi internal, kemampuan bekerjasama, konsisten, sikap disiplin, rasa percaya diri, dan sikap toleransi dalam perbedaan strategi berpikir dalam memilih dan menerapkan strategi menyelesaikan masalah.
Mampu mentransformasi diri dalam berpilaku jujur, tangguh menghadapi masalah, kritis dan disiplin dalam melakukan tugas belajar matematika.
Menunjukkan sikap bertanggung jawab, rasa ingin tahu, jujur dan perilaku peduli lingkungan.

3.6  Menjelaskan bentuk aljabar dan unsur-unsurnya menggunakan masalah kontekstual  
3.7 Menjelaskan dan melakukan operasi pada bentuk aljabar (penjumlahan, pengurangan,     perkalian, dan pembagian) 


Indikator Pencapaian Kompetensi  

Terlibat aktif dalam pembelajaran aljabar.
Bekerjasama dalam kegiatan kelompok.
Toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
Menentukan hasil  penjumlahan Aljabar
Terampil menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan operasi hitung aljabar.


Materi Pembelajaran  
"Penjumlahan dan Pengurangan Pada Bentuk Aljabar"


Operasi hitung pada bentuk aljabar sama seperti operasi hitung pada bilangan bulat yang meliputi: penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian dan perpangkatan. Nah pada postingan ini Mafia Online hanya membahas tentang penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar.

Operasi penjumlahan dan pengurangan pada bentuk aljabar hanya dapat dilakukan pada suku-suku yang sejenis dengan cara menjumlahkan atau mengurangkan koefisien pada suku-suku yang sejenis. Misalnya 2x + 3x = (2+5)x, 3y + ½y = (3 + ½)y, 4p3 – 7p3 = (4 – 7)p3, 4m – ½m = (4 – ½)m, 10x2 – 6x2 = (10 – 6)x2 dan lain sebagainya. Sedangkan jika suku-sukunya tidak sejenis maka bentuk aljabar itu tidak bisa dilakukan operasi penjumlahan atau pengurangan, misalnya 4x2 – 3x atau p3 + p2 tidak bisa dilakukan operasi penjumlahan atau pengurangan karena memiliki suku yang berbeda.
Untuk memantapkan pemahaman Inilah contoh2

Contoh Soal 1

Tentukan hasil penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar berikut.

a) –4ax + 7ax

b) (2x2 – 3x + 2) + (4x2 – 5x + 1)

c) (3a2 + 5) – (4a2 – 3a + 2)

Penyelesaian:

a) –4ax + 7ax = (–4 + 7)ax = 3ax

b) (2x2 – 3x + 2) + (4x2 – 5x + 1)

= 2x2 – 3x + 2 + 4x2 – 5x + 1

= 2x2 + 4x2 – 3x – 5x + 2 + 1

= (2 + 4)x2 + (–3 – 5)x + (2 + 1)

= 6x2 – 8x + 3

c)   (3a2 + 5) – (4a2 – 3a + 2)

= 3a2 + 5 – 4a2 + 3a – 2

= 3a2 – 4a2 + 3a + 5 – 2

= (3 – 4)a2 + 3a + (5 – 2)

= –a2 + 3a + 3

Contoh Soal 2

Sederhanakanlah bentuk-bentuk aljabar berikut.

a. 8p – 3 + (–3p) + 8

b. 9m + 4mn + (–12m) – 7mn

c. 2a2 + 3ab – 7 – 5a2 + 2ab – 4

d. 4x2 – 3xy + 7y – 5x2 + 2xy – 4y

e. –4p2 + 3pq – 2 – 6p2 + 8pq – 3

f. 12kl – 20mn –5kl – 3mn

Penyelesaian:

a. 8p – 3 + (–3p) + 8

= 8p + (–3p) – 3 + 8

= 8p –3p + 8 – 3

= (8 – 3)p + (8 – 3)

= 5p + 5

b. 9m + 4mn + (–12m) – 7mn

= 9m + (–12m) + 4mn – 7mn

= 9m –12m + 4mn – 7mn

= (9 –12)m + (4 – 7)mn

= –3m – 3mn

c. 2a2 + 3ab – 7 – 5a2 + 2ab – 4

= 2a2 – 5a2 + 3ab + 2ab – 4 – 7

= (2 – 5)a2 + (3+ 2)ab + (– 4 – 7)

= – 3a2 + 5ab – 11

d. 4x2 – 3xy + 7y – 5x2 + 2xy – 4y

= 4x2 – 5x2 + 2xy – 3xy + 7y– 4y

= (4 – 5)x2 + (2– 3)xy + (7– 4)y

= –x2 – xy + 3y

e. –4p2 + 3pq – 2 – 6p2 + 8pq – 3

= –4p2 – 6p2 + 8pq + 3pq – 3 – 2

= (–4 – 6)p2 + (8 + 3)pq + (– 3 – 2)

= –10p2 + 11pq – 5

f. 12kl – 20mn –5kl – 3mn

= 12kl – 5kl – 20mn – 3mn

= (12 – 5)kl + (– 20 – 3)mn

= 7kl – 23mn



Metode Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran student facilitator and explaining 

Media Pembelajaran
Kertas plano atau lembar kerja siswa
Slide share 

Sumber Belajar
Buku siswa 
Buku guru
Referensi lain yang mendukung
Searching internet


Langkah – langkah Pembelajaran

Penilaian Hasil Belajar
Prosedur Penilaian:

Instrumen penilaian
Tes tertulis

Tentukan hasil penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar berikut.

a) –4ax + 7ax

b) (2x2 – 3x + 2) + (4x2 – 5x + 1)

c) (3a2 + 5) – (4a2 – 3a + 2)


Catatan: 
Penyekoran bersifat holistik dan komprehensif, tidak saja memberi skor untuk jawaban akhir, tetapi juga proses pemecahan yang terutama meliputi pemahaman, komunikasi matematis (ketepatan penggunaan simbol dan istilah), penalaran (logis), serta ketepatan strategi memecahkan masalah. 

Soal individu

NAMA          :
KELAS       :
NO.ABSEN :

Sederhanakanlah bentuk-bentuk aljabar berikut.

a. 8p – 3 + (–3p) + 8

b. 9m + 4mn + (–12m) – 7mn

c. 2a2 + 3ab – 7 – 5a2 + 2ab – 4

d. 4x2 – 3xy + 7y – 5x2 + 2xy – 4y

e. –4p2 + 3pq – 2 – 6p2 + 8pq – 3










LEMBAR KERJA SISWA

       Mata Pelajaran : Matematika
       Kelas/Semester : VII/1
       Materi   : Aljabar
       Tahun Pelajaran  : 2016/2017
       Waktu Pengamatan : 10 menit

Nama Anggota Kelompok:
.............. 3.  ..............
.............. 4.  ..............

2. Sederhanakan bentuk aljabar berikut :

a. 3x2  – 4 x2 + 7x – 2 x + 1

b. 4x2 – 2y + 1 – 5x2 + x + y

c. 4 ( 2x2 – y ) + 3 ( x2 + y )



LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN SIKAP 
       Mata Pelajaran : Matematika
       Kelas/Semester : VII/1
       Materi   : Aljabar
       Tahun Pelajaran  : 2016/2017
       Waktu Pengamatan : -

Indikator sikap aktif dalam pembelajaran matriks
Kurang baik jika menunjukkan sama sekali tidak ambil bagian dalam pembelajaran
Baik jika menunjukkan sudah ada  usaha ambil bagian dalam pembelajaran  tetapi belum ajeg/konsisten 
Sangat baik jika menunjukkan sudah ambil bagian  dalam menyelesaikan tugas kelompok  secara terus menerus dan ajeg/konsisten

Indikator sikap bekerjasama dalam kegiatan kelompok.
Kurang baik jika sama sekali tidak berusaha untuk bekerjasama dalam kegiatan kelompok.
Baik jika menunjukkan sudah ada  usaha untuk bekerjasama dalam kegiatan kelompok tetapi masih belum ajeg/konsisten.
Sangat baik jika menunjukkan adanya  usaha bekerjasama dalam kegiatan kelompok secara terus menerus dan ajeg/konsisten.

Indikator sikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
Kurang baik jika sama sekali tidak bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
Baik jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif tetapi masuih belum ajeg/konsisten.
Sangat baik jika menunjukkansudah ada usaha untuk bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif secara terus menerus dan ajeg/konsisten.




LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN KETERAMPILAN
       Mata Pelajaran : Matematika
       Kelas/Semester : VII/1
       Materi   : Aljabar
       Tahun Pelajarann : 2016/2017
       Waktu Pengamatan : 10 menit

IIndikator terampil menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan Penjumlahan Aljabar
Kurang terampil jika sama sekali tidak dapat menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan Penjumlahan Aljabar
Terampil jika menunjukkan sudah ada  usaha untuk menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan dengan  Penjumlahan aljabar tetapi belum tepat.
Sangat terampill,jika menunjukkan adanya  usaha untuk menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan penjumlahan Aljabar dan sudah tepat.

Bubuhkan tanda √pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan.